Bekasi – Selama ini banyak yang telah salah dalam menulis nama Friska Elisa Womsiwor. Kesalahan itu terjadi sejak masih SD.

Banyak media yang menulis nama Friska menjadi Prisca Elisa Womsiwor, termasuk situs resmi Liga 1. Padahal, nama pemain 22 tahun itu sebenarnya adalah Friska.

Kesalahan itu sudah terjadi sejak penulisan namanya di ijazah SD dengan tulisan Prisca lantaran tak ada rujukan dari akte kelahiran, yang pada akhirnya futuristik dibuat momen dirinya masuk SMP (Sekolah Menengah Pertama).

“Kesalahan itu dari guru SD saya. Mama sudah kasih nama Friska, tapi guru kasih nama Prisca di ijazah. Itu awalnya saya tidak tahu. Mutakhir tahu pas mau masuk SMP,” beber Friska kepada beberapa awak media termasuk detikSport.

“Nah, pas saya tulis nama waktu daftar beda dengan di ijazah. Petugas bilang ini nama beda, mereka harus ikut acuan di ijazah SD biar tidak menghambat keperluan saya yang lain-lain. Mereka bilang tidak bisa diubah lagi.”

“Mulai dari situ saya pakai nama Prisca terus sampai sekarang. Tapi di jersey saya tetap pakai Friska karena tidak nyaman dengan nama Prisca. Saya kira itu terlalu perempuan sekali. Jadi kalau ada orang tanya kenapa nama Prisca saya bilang ‘sudah tulis saja tidak usah tanya lagi’.”

Foto: Rengga Sancaya/detikcom

Semasa sekolah Friska juga terbilang murid yang cukup ‘nakal’. Dia mengaku sering mencuri-curi waktu untuk main bola momen tidak ada pelajaran di sekolah.

Selain itu, Friska juga sering mendapat pertentangan dari ibunya terkait pilihannya bermain bola. Menurut sang ibu, sepakbola tidak menjamin apapun. Apalagi momen itu pada 2015 sepakbola di Indonesia sudah berhenti akibat konflik PSSI dan pemerintah.

Meski ditentang orang tua, Frisca tetap membulatkan tekad untuk terus bermain sepakbola, yang pada akhirnya bisa mengubah kehidupan keluarganya. Friska pun kini bisa membuka usaha cuci motor yang dikelola sang ayah dan kakak.

“Dulu mama sering bilang; ‘sepakbola sudah tidak ada, sekarang kamu lebih baik lanjutkan pendidikan. Saya cuma bilang kalau rumput masih hijau saya akan terus main,” katanya sambil tertawa.

“Sekarang saya bisa buktikan dan orang tua saya bilang keberhasilan ini berkat kemauan keras saya. Saya sekarang juga punya usaha cuci motor yang sudah jalan enam bulan di kampung,” sambungnya.

Dalam waktu dekat, Friska akan melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi. Rencananya dia ingin mengambil jurusan pemerintahan.

“Tahun ini saya futuristik mau daftar kuliah. Saya sudah pasang target kalau jadi pemain sepakbola saya mau kuliah dengan biaya sendiri, jangan bebani orang tua. Saya rencana mau ambil jurusan pemerintahan biar kalau sudah tidak jadi pesepakbola bisa kerja bangun daerah saya dan sepakbola di sana,” tandasnya.

(cas/din)


LEAVE A REPLY