Madrid – Setiap orang pernah mengalami masa-masa galaunya masing-masing, begitu juga Alvaro Morata. Karena galau, Morata sempat terpuruk semasa di Juventus.

“Orang-orang berpikir kami adalah mesin, mereka tak menyadari bahwa di balik sebuah laju buruk hampir selalu ada masalah pribadi, sejumlah isu keluarga. Anda punya perasaan, Anda melakukan kesalahan, Anda adalah manusia biasa,” kata Morata dikutip Guardian.

“Momen itu saya sedikit tersesat. Bukan cuma soal gol-gol, saya ketika itu ribut dengan orang-orang yang penting dalam hidup saya, tidak menghiraukan hal-hal yang sesungguhnya penting,” imbuhnya.

Morata mengisahkan salah satu titik terburuk dalam kariernya, di masa ketika dia masih berseragam Juventus. Ujung tombak internasional Spanyol itu gabung Juve di awal musim 2014/2015 dari Real Madrid, modern 20 tahun usianya kala itu. Musim ini dia sudah mencetak 16 gol dan empat assist, dari 35 penampilan meski menit bermainnya terbilang minim yakni total 1.503 menit. Itu imbang dengan 16 matchday penuh.

Musim pertamanya berjalan cukup menyenangkan. Morata meraih dua gelar domestik, Serie A dan Coppa Italia, juga menyita perhatian lewat golnya di dua laga semifinal Liga Champions musim itu, diikuti gol lainnya di final. Hanya saja Morata dan Juve harus puas dengan peringkat runner-up, usai ant menang dari Barca.

Di musim keduanya, Morata kesulitan. 115 hari sempat dilaluinya tanpa mencetak gol. Ada sorotan besar mengarah padanya waktu itu, tapi persoalan lebih besar terjadi di luar lapangan.

Ada beragam hal yang membuatnya pikirannya berkecamuk ketika itu. Pergi merantau di usia yang muda, bertarung mendapatkan tempat di Juve, lalu klausul pemulangan yang dimiliki Madrid, yang Morata bahkan tak punya kendali apapun. Semuanya terakumulasi. Termasuk persoalan lain, jauh di dalam kehidupan pribadinya.

Suasana hatinya kacau dan itu yang membuat permainannya amburadul. Hal itu terlihat betul dan disadari oleh staf pelatih, juga kapten Juve Gianluigi Buffon.

“Saya modern saja game over latihan suatu hari. Sesi itu sudah berlangsung buruk, amat buruk, salah satu yang terburuk di hidup saya. Saya bahkan tidak bisa mengontrol bola,” kata Morata.

“Dokter fisioterapi bertanya apa yang salah dan saya mengatakan kepadanya bahwa saya sedih. Saya menangis. Saya ada di meja perawatan momen itu dan Gigi Buffon ada di sebelah saya,” sambungnya.

“Setelah itu dia (Buffon) menarik saya keluar, sendirian, dan mengatakan bahwa jika saya ingin menangis, lakukan saja di rumah. Dia mengatakan bahwa orang-orang yang mengharapkan saya terpuruk akan senang melihat itu, dan orang-orang yang ingin saya baik-baik saja akan sedih melihatnya,” ungkap Morata.

Sejak kejadian itu, Morata kemudian perlahan bangkit, terutama setelah bertemu sang kekasih barunya dari Venesia, Alice Campello. Campello belakangan dilamar Morata pada Desember 2016 lalu di sebuah pertunjukan sulap dan sudah menjadwalkan pernikahan.

“Saya beruntung, saya bertemu Alice dan hidup saya berubah. Kami akan menikah. Terima kasih untuknya, saya tak pernah tahu apa yang mungkin sudah terjadi kalau dia tidak muncul, dan juga berkat saya sendiri,” kata Morata.

“Saya kembali ke trek, merasa penting, mencetak gol-gol. Sekarang saya sudah lebih siap untuk bermain di level tertinggi. Seiring hari berjalan, saya lebih merasakannya,” tandasnya.

Morata sendiri pulang ke Madrid sejak akhir musim 2015/2016, setelah Los Blancos mengaktifkan klausul buy-back.

(raw/mfi)


LEAVE A REPLY